Jumat, 08 Juni 2012

Primadona Masih Enggan Mati


Perkembangan teknologi digital makin mengganas, namun Tini masih saja mengandalkan dua buah mesin tik bekasnya untuk penghidupan. 

Di suatu siang yang cukup mendung, Tini masih masyuk dengan pekerjaannya. Jari-jarinya lincah menari di atas papan mesin tik sedangkan matanya fokus membaca jilidan kertas. Sekalipun ia mengobrol dengan saya ataupun pelanggannya, irama ketikan Tini tidak sedikitpun melambat. Hasil ketikan Tini pun jarang sekali salah. Bisa dibilang, ia memiliki konsentrasi yang luar biasa bagus.
Tini, 40 tahun, adalah seorang tukang ketik manual. Kiosnya, Shinta Ketik Manual, berada di ujung perempatan Jalan Colombo. Setiap hari, ia harus menempuh perjalanan selama kurang lebih satu jam. Maklumlah, rumahnya terletak di daerah Pajangan, perbatasan antara Bantul dan Kulonprogo.

Bisnis ketik manual ini sudah Tini lakoni sejak tahun 1991. Dua puluh tahun silam, setelah kelulusannya dari SMEA Negeri I Sabdodadi Bantul, ia tertarik untuk mendirikan jasa ketik manual. Memang, semenjak sekolah, kemampuan mengetik Tini berada di atas rata-rata ketimbang kawan-kawannya. Berdasar pada inilah, ia bertekad membuka sebuah rental ketik manual. “Kalau kita punya keahlian ya dimanfaatkan. Saya langsung nyoba kerja begini setelah lulus SMEA. Malah keterusan sampai sekarang,” ujar perempuan yang tak miskin senyum ini.

Daya Tarik Primadona Anyar
Mesin tik pernah menjadi pilihan unggul. Ia begitu disanjung dengan segala jasanya yang menguntungkan. Waktu mesin tik masih berstatus sebagai primadona, usaha ketik manual Tini terbilang maju. Dalam sehari minimal dua puluh lima ribu rupiah bisa ia peroleh. Sepengakuannya, usaha ini juga mampu menghidupi ekonomi keluarga dan menyekolahkan kedua anaknya. Namun, Tini tak bisa mengelak dari perkembangan teknologi yang melesat cepat. Era mesin tik kian lama kian tak dilirik. Segera saja komputer dan printer-nya itu menjadi pilihan banyak kalangan. Waktu itu, Tini sempat khawatir memikirkan nasib usahanya ke depan. Namun, di tengah-tengah kekhawatirannya itu, terselip sebuah keoptimisan. Kini terbukti, usaha ketik manual Tini masih enggan mati. Walaupun penghasilannya tak sebanyak dulu, namun ia masih tetap bersyukur karena setiap hari selalu saja ada pelanggan datang.
Pengguna jasa ketik manual ini memang kalangan khusus. Seperti orang-orang yang memang tak memiliki keahlian menggunakan komputer atau sifat dokumen yang harus diisi harus menggunakan mesin ketik. Bahkan, tidak sedikit mahasiswa menggunakan jasa ketik yang disediakan Tini. Misalnya saja, Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta yang mewajibkan mahasiswanya menggunakan ketik manual untuk Tugas Akhir mereka. Tidak sedikit pula, orang yang mampir meminta pengetikan untuk kwitansi dan surat ijin jalan kendaraan bermotor. “Bagi saya, mesin ketik adalah solusi terakhir untuk dokumen yang nggak bisa diselesaikan dengan komputer,” imbuh Tini.

Kisah Dua Dekade
            Sudah dua dekade lebih Tini menggeluti usaha ketik manual. Sudah berjuta orang pula yang menjadi pelanggannya. Bagi salah seorang pelanggannya, jasa Tini bukan main-main. Berkat kepiawaian jari-jari Tini, si pelanggan telah diantarkan menuju jenjang karir yang lebih tinggi. Adalah seorang jaksa di Kantor Kejaksaan Yogyakarta. Waktu itu sang jaksa memercayakan Tini untuk mengetik naskah tesisnya padahal waktu itu komputer sudah menjadi hal yang tak asing lagi. Berkat tesis ketikan manual ini, sang jaksa justeru mendapat pujian bertubi-tubi dari dosen penguji. Bagi si dosen, kesederhanaan sang jaksa yang menggunakan ketik manual patut diacungi jempol. Pujian ini lantas menjadikan sang jaksa menduduki jabatan yang lebih tinggi, jaksa agung.  Hingga kini, sang jaksa agung masih sering menghubungi Tini. Baginya, Tini adalah seorang yang membawa kebaikan dalam hidupnya.
Kepiawaian Tini tak hanya menuai pujian. Pernah hampir selama sembilan tahun ia ditindas oleh pelanggannya. Tini bahkan tak mengenal nama pelanggan itu. Awalnya si pelanggan itu meminta Tini untuk memalsukan sebuah dokumen. Tini tidak pernah menanyakan keganjilan itu. Bahkan, si pelanggan pun tak membayar jasa Tini. Kejadian ini berlangsung berulang kali selama sembilan tahun.  Sikap pelanggan ini juga dirasa sangat mengganggu pelanggan lain. Ia sering membentak pelanggan lain dan tidak pernah mau mengantri. Sampai akhirnya, Tini merasakan kemarahan yang luar biasa pada pelanggan tadi. Di suatu pagi, Tini baru saja membuka pintu kiosnya. Tiba-tiba pelanggannya itu memaksa Tini untuk memalsukan dokumen. Nada si pelanggan yang keras dan kasar membuat Tini merasa sakit hati.
“Saya bukan kenalan Anda! Saya juga bukan saudara Anda! Saya buka usaha ini untuk cari nafkah! Sekarang Mas mau apa? Kalau Mas mau main keras, saya juga bisa. Posisi Anda sekarang tamu! Saya bisa mengusir kamu. Cepat pergi sebelum saya bertindak! “ Tini menirukan kejadian pengusiran yang terjadi tiga tahun lalu. Kejadian pagi itu pun akhirnya menjadi anti klimaks dari segala kekesalan Tini. Imbasnya, kini si pelanggan tak pernah berani menampakkan batang hidungnya ke kios.
Penghasilan Tini sekarang mungkin tak seberapa. Tapi ia tak pernah sedikitpun goyah mencintai mesin tik. Tini tetap setia menjalani usaha ini. Selain itu ia tak mau berjudi dengan masa depannya dan anak-anaknya. Di samping itu, di zaman serba digital ini bukanlah hal mudah menemukan segala sesuatu yang manual, seperti usaha mesin ketik. Padahal jasa mesin tik tidak lantas hilang tak berjejak meski hanya untuk kalangan terbatas yang jumlahnya tak seberapa. Orang-orang inilah yang Tini khawatirkan. Bagaimana nasib para pelanggan yang terbiasa menggunakan jasa ketik manualnya jika ia harus beralih profesi?

Omah Petroek, 2 Juni 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar