Jumat, 07 September 2012

Cintaku Jauh si Segara

Ini gelembung kukirimkan kepadamu, Sam. Didalamnya sudah kuselipkan sekumpulan rindu yang diramu dengan menyesakkan. Cepat pulang, aku hampir menghunus pedang untuk dirobekkan di urat nadiku yang menegang menahan rindu dan sembilu.

Salah satu atau dua dari ribuan gelembung ini mungkin akan sampai padamu. Lantas, cobalah kau pecahkan gelembung itu dengan kuku ibu jarimu. Akan kau dapati suaraku yang terdengar bersama dengan suara pecah gelembung. Meski sekadar aku rindu kamu.



Sam, ini hari ke seribu kau mengajakku untuk dalam satu setia, satu suka, dan satu duka. Aku tak ingin kau merayakannya sendiri di tengah segara. Sementara aku mati kesepian dan sesenggukkan. Maka, pulanglah. Temui setengah hatimu di daratan.

Kau tahu Sam, aku selalu menunggumu tiap jam sembilan malam di bibir pantai. Dengan sabar membuat ribuan gelembung yang berisi rindu dan kekangenan. Serentak, kuterbangkan mereka di lautan. Berharap angin darat akan membawanya menuju perahu cadikmu itu. Lantas berharap pula beberapa gelembung mampir padamu sebelum tenggelam. Membayangkanmu memecahkan gelembung itu dan membungkus rinduku itu dalam gelembung yang lain. Pun pagi-pagi sudah kusambangi bibir pantai lagi. Kalau-kalau kau tak pulang, setidaknya satu gelembung balasan akan kudapatkan.

Maka benar, suatu pagi setelahnya, sebuah gelembung merah muda menari kecil di atas ombak. Kubawa ia menuju kamar kita. Aku bersiap mengambil gelembungku yang lain. Karena setelah kupecahkan gelembung ini, akan kubungkus kembali isi pesanmu. “Aku pun rindu kamu Maria. Besok tunggu aku jam sembilan.”
Seketika segala sesuatu menjadi senyap, aku tak kuat. Rinduku yang sudah melebihi ubun-ubun mulai meledak. Tidak sabar menanti besok pagi. Segera aku menuju pelataran. Kembali membuat ribuan gelembung untuk kabarkan pada Sam supaya hati-hati. Tak lupa kecupan lembut di dahi dan bibirmu.

Mengingatmu adalah rutinitas yang menyenangkan dan membuat genap hidupku. Aku ingat betul ketika suatu siang kau datang menemuiku di teras rumah. Tanpa basa-basi, kau memegang tanganku. Mengucap namaku. Lantas tersenyum, lama sekali. Kau membisikkan bahwa kau menerima sebuah gelembung kecil yang hampir tenggelam. Malu tak kepalang rasanya waktu itu. Karena saat itulah hari ke sebelas aku meyakinkan diri bahwa aku mencintaimu. Hari kesebelas pula aku mulai bermain dengan gelembung-gelembung.

Menceritakan semua keraguanku akanmu. Aku tak pernah berniat menerbangkan gelembung itu padamu. Bahkan, aku tak pernah berharap kau akan menangkapnya.

Umurku saat itu 14 tahun, namun aku begitu yakin bahwa aku mencintaimu. Usia bukanlah suatu jarak pemisah antara kita dan percintaan. Jika sudah terpaut cinta, lantas akan bicara apa? Jika hendak pun, Tuhan akan dilibas untuk mempersatukan persenggamaan hati kita.

Aku mengenalmu bukan dengan cara yang baik-baik. Aku ingat betul ketika dulu, saat umur kita sama-sama masih sembilan tahun. Kau tak pernah berhenti mengusiliku sepulang madrasah. Keisenganmu hanya karena keluargaku pindahan dari daerah pegunungan dan bapakku adalah seorang pejabat di kampung nelayan ini. Katamu, tak pantas selain nelayan dan keluarganya tinggal di pesisir ini. Sempat sebulir air mata jatuh, namun buru-buru aku berlari agar kau tak melihat jejak air yang luruh dan terjatuh. Sesampai rumah, aku begitu membenci bapakku yang pejabat itu. Merengek memintanya menjadi seorang nelyan sahaja. Dan menceritakan ihwal ayahmu yang seorang nelayan kawakan di pesisir ini.

Itu dulu Sam. Tapi lambat laun, ejekanmu itu sudah membuatku begitu tergila-gila pada lautan. Persisnya lelaki yang begitu mencintai laut melebihi apapun. Di pesisir ini, tak ada seorang pun yang begitu mencintai lautan dengan tulus sepertimu. Yang ada hanya nelayan yang menggunakan lautan untuk mengisi perut dan membeli pakaian. Tapi kau Sam, kau berbeda. Kau tidak bisa disamakan dengan mereka. Aku tahu, kau tulus mencintai lautan seperti aku yang lambat laun tulus pula mencintaimu.

Aku berterima kasih juga pada angin yang membawa gelembungku ke tanganmu. Tanpanya, mungkin kau tak pernah tahu betapa aku berangsur mengagumimu. Maka tiap sore setelahnya, kita bertemu di bibir pantai. Aku memintamu mengajariku menagkap ikan. Kau memintaku mengajarimu membuat gelembung. Supaya bisa membalas pesanmu Maria, katamu waktu itu.

Senang bukan kepalang aku waktu itu. Mendapat kabar balik darimu di segara sana pernah menjadi impianku. Saat ini, impian itu sudah kau gelontorkan dan sudah kurasakan.

Ini pagi pukul setengah tujuh, sudah kusiapkan segala sesuatu untuk menyambutmu. Mungkin aku terlalu berlebihan karena kau hanya melaut empat hari. Namun, adakah yang lebih lama selain menunggu kekasih yang baru saja bersatu dalam pelaminan?

Kau memang tak tahu diri Sam. Baru tiga hari menikah langsung meninggalkanku untuk melaut. Rindu segara, katamu. Aku pun terpaksa mahfum, hidupmu hanya terbagi pada segara dan aku. Sam, pulanglah hati-hati. Temui aku, stengah hatimu di daratan. Segera selesaikan percumbuanmu dengan segara tanpa membuatku terlalu jauh cemburu. Cepat pulang Sam! Rinduku sekarat hampir mati.

Rumahku berkalang air. Pohon kelapa yang biasa menyiur di depan perkampung, roboh satu-satu tertimbun ombak tinggi yang datang mengerejap dan mengagetkan hingga tak mampu bersembunyi bahkan mencari aman. Aku terapung entah dimana. Nasibmu, tak kalah menyedihkan. Sam, seharusnya kau jangan pernah mencintai laut. Karena di pagi ini, laut telah menjelma tsunami.

1 komentar: