Jumat, 09 November 2012

Tentang Bapak

Lagu “Ayah” milik Seventeen terdengar cukup lantang tengah malam ini. Segera saja suasana di kamarku mendadak melankolis, mengingat suami ibuku itu. Bapak, begitu ia biasa kupanggil. Bapak, orang yang pendiam, sangat pendiam. Ia hampir tak pernah bicara jika aku tak lebih dulu mengajaknya bicara. Setelah peristiwa itu, kami tinggal terpisah. Hanya akhir pekan kami bertemu. Acap kali dalam pertemuan dua hari itu hanya ada beberapa menit percakapan. Maka wajar tak banyak yang kuingat tentang Bapak. Hanya potongan-potongan kecil ingatan tentang Bapak yang bisa dipatri. 

Benar apa yang dinyanyikan seventeen ini, “kau ajarkan aku menjadi yang terbaik”. Dalam diam yang begitu diam, Bapak selalu mengajarkan bagaimana hidup dalam keheningan dan tak sedikitpun terusik oleh hingar bingar hidup. Aku belajar, belajar menjadi orang yang mampu diam, hening, dan tenang. 



Bapak juga seorang yang hampir tak pernah mengeluh. Dalam keadaan sepesimis apapun, bapakku tetap diam. Ia seakan tak mau membagi kesedihan dan keputusasaannya pada keluarga. Kadang aku merasa bersalah, karena tak mampu menjadi teman bicara yang baik untuk Bapak. Hanya beberapa kali ia mengeluh tentang kondisi badannya yang kurang sehat karena terlalu banyak minus es atau kehujanan. 

Aku belajar memaafkan dari Bapak. Bapak tak pernah marah dan selalu memaafkan orang-orang yang telah membuatnya jatuh ke titik minus. Titik minus! Ia tidak pernah sekalipun mengungkit kesalahan brengsek-brengsek itu. Pernah, aku dan Mamah ditegurnya karena menggunjing si brengsek. Lihat, betapa Bapak mudah sekali melupakan kesalahan orang lain walau aku masih menyimpan niat menghantam dan menghajar mereka. 

Dulu, ketika aku dan Mba Ita masih sekolah dasar di Bandung, kami meminta dibelikan tamagochi, sejenis mainan elektronik dimana kita bisa memelihara hewan secara digital. Aku dan Mba Ita segera saja mencari info tentang harga mainan ini. Kata teman-teman, cukup dengan uang 30ribu. Maka berangkatlah aku, Mba Ita, dan Bapak membeli tamagochi (aku lupa di daerah mana). Ketika akhirnya kita menemukan tamagochi yang sreg, ternyata harga tamagochi itu dua kali lipat lebih. Terpaksa, Bapak mengeluarkan uang untuk ongkos angkutan kota. Sehingga akhirnya kami harus jalan kaki cukup jauh supaya uang angkot tadi cukup. Tamagochi itu entah dimana sekarang. Aku ingat sekali ketika kunci tamagochi sudah rusak lantas aku membuatnya dari wadah aqua gelas. Aku dan mba Ita kiranya berbakat sebagai peternak hewan digital. Membeli tamagochi ini adalah satu moment yang paling kuingat tentang Bapak. 

Bapak, selalu mencintai anaknya dengan cara yang lain. Memang ia jarang bicara, tak seperti Mamah yang akhir-akhir menjadi makin rewel saja. Bapak jarang sekali menanyakan keseharianku dan saudara-saudaraku. Tapi ia tak pernah absen jika suatu ketika kami menodongkan tangan minta uang saku tambahan. Jumlahnya beragam, tergantung isi dompet dan isi rekening Bapak, mulai 5 ribu hingga dua ratus ribu. Juli lalu, aku dan Haris sowan ke tempat Bapak di Bandung sembari liburan. Disana, kami bagai anak kecil nan manja. Kemana-mana naik taksi, makan enak, ditemani pula, sampai-sampai Bapak ijin kerja. Hahaha. Mamahku pernah bilang ”Begitulah cara bapak menyayangi kalian”. 

Itulah Bapakku, yang nyaman dengan diam. Nyaman memaafkan. Nyaman berjiwa besar. Bapak, maaf akhir-akhir ini aku jarang mengajakmu bicara. 
Oh ya, kebetulan note ini ditulis bertepatan dengan ulang tahun Bapak yang ke-53. Selamat ulang tahun Bapak. 

Yogyakarta, 9 November 2012

2 komentar:

  1. trims postingannya, saya sedang belajar menjadi bapak, semoga saya bisa seperti bapak anda.
    salam kenal, Mario.

    BalasHapus
  2. waa.. selamat mas mario!! semoga bisa menjadi bapak yang baik untuk anak2 & suami yang baik untuk istri :D

    BalasHapus