Rabu, 12 Agustus 2015

NAIF dan Segala Kenaifan Saya


Saya pecinta NAIF. Bukan pecinta ulung. Masih abal-abal sih. Masih amatir. Walaupun saya sudah terpana pada mereka sejak zaman SMP (usia saya sekarang 24 tahun. Hitung sendiri saja). Kenapa cinta saya pada NAIF patut dipertanyakan? Pertama, karena saya ndak tahu semua lagu mereka. Kedua, karena saya ndak paham dan tidak mau susah-susah mencari tahu sejarah band ini. Ketiga, karena saya juga ndak tahu tanggal berapa saja ulang tahun personelnya. Hehehe. Tapi saya cinta NAIF dengan segala lagunya.

Boleh dibilang, ketertarikan yang semakin menggila pada NAIF dimulai pada awal-awal SMA. Aduhai, betapa lagu “Mobil Balap” dan “Benci Untuk Mencinta” yang lawas itu begitu sering dibawakan oleh band kakak kelas saya di SMA dulu. Tapi ya begitu. Zaman dulu ‘kan susah. Untuk beli kaset NAIF saja, saya tak mampu. Beli mp3 NAIF di toko handphone, buat apa? (Dulu jarang sekali orang mendownload sendiri. Oh ya, dengan 10.000 rupiah kamu bisa dapat 3 copy-an lagu). Hape saya kan hape jadul. Poliponik. Baru saat kuliah saya aktif mendownload secara ilegal lagu-lagunya. Ini alasan keempat kenapa saya disebut pecinta NAIF abal-abal cum amatiran.

Saat kuliah juga, saya baru menuruti mimpi saya. Nonton konser NAIF!
*Sebagai catatan, seumur hidup, saya belum pernah nonton konser. Ya ampun, daif sekali saya.
**Peristiwa ini juga yang membuat saya yakin bahwa impian bukanlah hal mustahil. Ia bisa terwujud walaupun harus menunggu bertahun-tahun.

Jadi, di suatu sore di tahun 2012, tiba-tiba saya nyeletuk pada kawan baik saya yang Tionghoa cap Purwokerto campuran Singkawang itu.
Ncik, pengen ke Jakarta euy,” kata saya di sela-sela keseloan di basecamp kegiatan ekstra kampus.
“Ayo.”
“Tapi ga ada duit.”
Sekian. Percakapan berhenti di situ begitu saja.

Lantas beberapa hari setelahnya, Encik memberi tahu bahwa NAIF mengadakan konser di Jakarta. Bahwasannya, doi tahu kalau saya pecinta NAIF. Ini konser rutin NAIF setiap ulang tahun. Tahun 2012 berarti usia NAIF 18 tahun. Wah betapa senangnya saya. Tapi semangat saya meluncur seketika. Ya gimana, saya kan hanya mahasiswa dengan penghasilan (baca: kiriman orang tua) yang pas-pasan. Oh ya, saya tinggal di Jogja. Untuk makan, bisa saya serahkan pada senior-senior yang berminat menampung kami berdua di Jakarta sana. Tapi untuk tiket kereta api dan tiket masuk saja, belum tentu saya bisa nebus. Masak mau minta sama si mamah. “Mah, minta duit dong. Mau nonton NAIF di Jakarta.” Kan ndak lucu.

Waktu itu sih saya nggak berharap banyak. Takut kecewa. Eh dasar, rejeki anak solehah. Saya dipanggil oleh Pak Nurhadi, dosen FBS (Fakultas Bahasa dan Seni). Blio ngasih uang ke saya setengah juta. Ingat, uang ini bukanlah uang hadiah atau pemberian begitu saja. Uang ini merupakan hasil kerja keras meneliti satu per satu halaman roman milik Orhan Pamuk, “My Name is Red” a.ka “Namaku Merah Kirmizi” selama satu bulan lebih.

Hati ini berbunga-bunga betul mendapatkan uang tepat pada waktunya. Keluar dari jurusan, saya langsung hubungi Encik, “Ayo dah ke Jakarta nonton NAIF. Udah ada duit.” Lalu kami berdua bagi tugas. Saya mengurusi tiket masuk konser. Encik mengurusi tiket kereta api.

Hari H tiba. Malam hari, saya dan Encik menunggangi kereta kelas bisnis dari Stasiun Tugu. Harusnya kami naik kelas ekonomi. Saya sudah berkali-kali mewanti-wanti Encik supaya segera beli tiket ekonomi. Tapi dasar. Perjalanan lama sekali. Sekitar Subuh jam 5, kami baru sampai di Stasiun Senen. Waktu itu, saya sih manut saja sama Encik karena doi lebih tahu Jakarta ketimbang saya. Jadilah setelah mandi di Senen, kami jalan-jalan ke sekitaran. Melihat Kota Tua yang biasa-biasa saja. Melihat Museum Fatahilah yang masih tutup. Dan sebagainya-dan sebagainya.

Kami lantas bersepakat untuk mengunjungi Masjid Istiqlal selepas sarapan. Ealah, ternyata Encik punya misi sendiri di masjid itu. Tidur. Duh iyung. Saya yang serba gengsian ini kan gengsi juga buat tidur di masjid.

(Pagi buta di Istiqlal, masjid sekaligus tempat tidur dadakan.)


Seharian itu kami hanya jalan-jalan saja. Tidak ada tempat singgah yang bisa kami singgahi. Padahal kami butuh kasur. Remuk sekali rasanya badan yang semalaman dipaksa meringkuk di dalam kereta api. Kami berdua lantas makan es krim Ragusa yang mahal, terkenal, dan rasanya biasa saja. Kami lewati Monas. Kami ke Kantor TEMPO menemui Maya, kawan baik Encik. Sorenya, saya, Encik, dan Maya menuju Mall Indonesia. Oh ya, Konser sendiri dilangsungkan di HardRock Cafe.

Jam 8 malam sudah lewat. Punggawa NAIF belum juga masuk panggung. Saya dan penonton yang lain masih sabar. Padahal kaki sudah susah diajak kompromi. Rasanya letih sekali. Kami yang kere-kere tidak bisa duduk di kursi Hard Rock yang nyaman. Ya gimana, masak duduk aja bayar lagi, begitu kata Mbak Waitress nya. Ingat, uang kami ‘kan ngepas sekali. Nah, baru jam 10 mereka masuk. Itupun setelah teriakan “huuu” membahana di kafe yang ukurannya ndak begitu besar.

Begitu mereka masuk, saya hanya terkesima. Terpana dalam artian yang sebenarnya. Senior kami yang juga ikut nonton sampai bilang, “Ya ampun mukamu itu lho Yan!”

Malam itu, kami semua bersenang-senang. David lucu sekali di atas panggung. Kang Jarwo hanya mesem-mesem. Walau sudah beruban, doi mah tetep cool dengan muka seadanya. Emil, ya begitulah. Pepeng? Terlihat betapa Kang Pepeng begitu heboh sendiri menggebuki drumnya.
Sayangnya, “Senang Bersamamu” tidak mereka nyanyikan.

Oh ya, saya sempat berfoto dengan mereka. Itu pun setelah bilang pada panitia bahwa saya dari Pers. Mendaku bahwa nama majalah saya bernama EKSPRESI.
“Maaf yang lain nggak boleh masuk,” kata mbaknya.
“Saya dari pers mbak,” jawab saya.
“Dari mana? Kartu persnya?”
“Dari Majalah EKSPRESI.”
“Mana itu EKSPRESI.”

Saya mesam-mesem saja. Dalam hati, saya mengkoreksi perkataan saya. Iya dari majalah EKSPRESI. Salah satu lembaga pers mahasiswa milik kampus negeri di Yogyakarta. Persma tempat saya dan si Encik bernaung. Untunglah, kami diperbolehkan masuk. Daaaaaaan, untuk pertama kalinya saya melihat David, Kang Jarwo, Emil, dan Pepeng dari dekat. Subhanallah, nikmat Tuhan mana lagi yang saya dustakan? 


(Salah satu nikmat Tuhan: berfoto bareng idolak!)

2 komentar:

  1. hehehe......salam retropolis ya de, kaka dari samarinda. ngefans banget juga sama naif. udah 3 kali kaka pernah nonton live mereka. pertama 2004 di kebun raya samarinda, ke-dua 2007 di lapangan bola bhayangkara samarinda (sekarang tempatnya udah dirubah pemerintah setempat menjadi taman kota samarendah namanya),ke-tiga 2009 di ballroom hotel mesra indah samarinda dan yang ke-empat 2013 di balikpapan, kaka lupa nama tempatnya. namun kaka tidak seberuntung kamu bisa dapet foto bareng. empat kali kaka nonton belum dapet kesempatan untuk foto bareng. tapi di syukuri aja semoga satu saat dapet kesempatan itu. amin. hehehe

    BalasHapus
  2. sorry salah tulis, 4 kali maksudnya de.

    BalasHapus