Rabu, 12 Agustus 2015

Pagi di Suatu Pagi


#Cerpen Lawasan

Aku tak lagi suka pagi. Tidak seperti kebanyakan orang yang menunggu pagi untuk segera berebut rezeki. Aku tak pernah suka pada sinar matari yang masuk melalui celah lubang angin dalam kamarku. Membangunkanku dari segala kelelahan yang hinggap dari hari-hari kemarin. Membuat segala keheninganku hilang bersamaan dengan berisiknya bunyi tapak kaki yang lalu lalang di dalam kurabu. Bukan hanya tak suka pagi, aku bahkan membencinya. Melebihi benciku pada Tuhan yang menuliskan garis hidupku sedemikian penuh bala.
Masih teringat jelas sekali kala pertama aku menuju jalan mengerikan ini.Saat itu pagi. Aku membuka mataku dari tidur yang nyenyak. Membasahi muka, merapikan amben, membuka jendela, membiarkan sinar-sinar matahari menerangi kamarku yang sudah rapi. Lantas tiap pagi aku akan membuatkan teh untuk Ibu, Bapak, Mas Tomo. Menaruhnya di atas meja tamu lalu kulanjut menyapu. Rapi sudah, bersih sudah. Rasa-rasanya bau pagi makin lekat di hidungku. Perlahan kusesap bau pagi itu. Rasa-rasanya kemarin pun aku masih menjalankan ritual pagi. Pagi itu jelas sekali matari cerah tanpa sedikit pun mendung menggelayut manja. Aku mencintai sayup-sayup terang dalam pagi. Membuatku merasa begitu damai dan bersahabat.
Pukul tujuh, seorang sipil Jawa dan tentara Jepang mengetuk pintu rumahku. Bapak membukakan pintu itu dan merasa terkejut ada seorang Jepang bertamu sepagi ini. Bapak kagum betul dengan Jepang yang mengaku sebagai saudara tua Indonesia ini dan mengurangi keberadaan Belanda. Ia mempersilakan tamu-tamunya masuk dan duduk. Dua gelas teh hangat dan sepiring bakwan rebus menjadi saksi obrolan mereka.
Ibu dan aku segera mencuri-curi dengar percakapan antara bapak dan kedua tamu tadi. Sedang Mas Tomo hanya menggelengkan kepala melihat tingkah kami. Ia bergegas menuju pelataran belakang, memberi makan ayam-ayam peliharaan. Rupa-rupanya dua tamu tadi mengabarkan bahwa pemerintah Jepang sedang mengadakan sekolah khusus untuk perempuan-perempuan Indonesia. Menariknya, sekolah tadi bersifat gratis. Kami tak perlu membayar sesen pun. Sekolah gratis tadi akan diselenggarakan di Jepang, segala urusan mulai dokumen beserta uang saku menjadi urusan pemerintah Jepang. Aku, anak perempuan satu-satunya dalam keluarga merasa berada diatas angin. Dalam hati aku berharap, Bapak akan menunjukku untuk ikut sekolah Jepang. Aku yakin, mereka akan bangga karena beberapa tahun setelahnya aku akan menjabat di kantorku sendiri di daerah kabupaten.
Maka, setelah Jepang-Jepang tadi usai bercakap dengan Bapak, aku segera merajuk pada Bapak dan ibuku.
“Bapak, saya sudah mendengar kabar dari Jepang tadi. Saya ingin ikut,” ujarku tanpa basa-basi.
“Iya Bapak tahu kau pasti kepingin ikut. Bapak juga ingin kau sekolah, lebih pintar dari Bapak, Ibu, atau Mas Tomo.”
Aku berbinar, hampir mendapat restu.
“Tapi kau tahu bukan resikonya? Jepang itu jauh. Kau harus mandiri, tidak boleh menggantungkan hidupmu begitu saja,” lanjut Bapak menceramahiku.
Ibu dan Mas Tomo hanya diam. Lantas bapak merasa enggan. “Coba kau tanya Ibu dan Mas-mu!”
Kulihat Ibu tak berekspresi sama sekali. Dalam dua detik matanya sudah penuh genangan air. Buru-buru ia mengusapnya, saat sadar kami semua memperhatikannya.
“Ibu, bagaimana? Bolehkah?”
“Nduk, Ibu khawatir. Kita tidak pernah terpisah begitu jauh. Kamu anak perempuan yang paling Ibu sayang.”
Aku khawatir, sepertinya Ibu tak memberi jalan. Lantas kubuat tatapan semeyakinkan mungkin. Harap-harap cemas Ibu mampu merelakan kepergian putrinya menuju negeri matahari terbit itu.
Mas Tomo sama khawatirnya dengan Ibu. Ia membutuhkan waktu lama untuk memutuskan keinginanku. Aku tahu, pasti ada perasaan berat menggelayut karena aku satu-satunya adik yang ia punya. Tapi apa yang bisa aku lakukan sekarang? Setamat sekolah, kerjaaanku makin tak tentu. Hanya berdiam di rumah membantu ibu menanami sepetak tanah kecil dengan bumbu-bumbu dapur. Menunggu pinangan datang? Zaman serba sulit, banyak pemuda lebih mementingkan bela negara dari pada menikah dan kawin. Ayo Bapak, segera putuskan dan ijinkan aku melanglang menuju sakura tumbuh.
****
Dengan berat hati, Bapak Ibu dan Mas Tomo mengantarku hingga muka rumah. Seorang Jepang yang kemarin datang telah menjemputku. Si sipil, yang akhirnya kuketahui namanya adalah Hanada-san. Dengan montor keblak, ia segera membawakan tas yang berisi pakaianku. Di depan pintu, air mata yang begitu melimpah segera tumpah. Kupeluk ibu, Bapak, dan Mas Tomo. Kupandangi Bapak yang di sudut matanya mengambang air mata. Ibu melemas dan menyandarkan diri di dinding rumah.
Dibawa Hanada-san, aku melaju menuju sebuah rumah. Ternyata aku tak sendirian. Di sebuah rumah tampungan milik kawan Hanada-san, Yuriko, aku bersama sekitar 9 anak perempuan lain. Mereka sepantaran denganku. Empat diantaranya adalah teman sepermainanku kala kecil, Tari, Kijah, Saroh, Tarmi.
Kami bersepuluh bercakap-cakap gembira. Membayangkan perjalanan yang panjang menuju negeri dimana sakura-sakura tumbuh. Membayangkan repotnya kami harus kursus bahasa Jepang  dulu sebelum memasuki sekolah impian. Membayangkan betapa cantiknya kami berkimono. Membayangkan asyiknya bermain drama di sela-sela sekolah. Membayangkan hujan bunga sakura di pelataran asrama. Membayangkan masa depan cerah yang tinggal beberapa langkah.
****
Rumah ini tak pernah sepi. Tentara-tentara Jepang kerap menyambangi rumah milik Yuriko. Mereka selalu memandang kami dengan mata-mata genit. Namun lambat laun mereka menjadi teman mengobrol kami yang asyik. Mereka tak pernah kering dari informasi di Jepang sana. Ada-ada saja kabar-kabar menarik yang mereka sampaikan, mulai dari cara berkimono hinggan kehebatan Kaisar Hirohito.
(http://bit.ly/1P50HQm)

Dua minggu dalam rumah besar ini membuat kami tidak tahu kondisi di luar. Kami layaknya tahanan, dikurung tanpa tahu peristiwa di luar kurungan kami. Namun untungnya, kami diberi makanan dan pakaian yang layak dan berkecukupan. Oleh Yuriko, yang biasa kami panggil Okasan, kami diajari bagaimana cara merawat tubuh yang baik menggunakan segala macam ramuan agar tubuh tetap wangi dan segar. Bahkan, ia memanggilkan dokter untuk memeriksa kesehatan kami. Okasan bilang, semua itu untuk pelengkap dokumen kesehatan. Maka, kami hanya menurut saja ketika dokter menyuntikkan sesuatu di lengan kami dan memeriksa organ vital kami.
Di lain waktu, Okasan mengajari kami menuang teh atau membuat angsa dari kertas. Lantas kami mulai terbiasa berkimono dan membungkuk saat matahari terbit. Kami serasa tinggal selangkah menuju Jepang.
Namun, berminggu-minggu setelah pemeriksaan kesehatan, kami tak juga diberangkatkan. Segala macam semangat yang kami usung, perlahan meleleh menjadi mentega yang siap dilahap bersama roti. Bayangan kesuksesan yang akan dimulai di negeri matahari itu perlahan sesap. Gelora yang kami bawa dari kampung halaman perlahan kusut masai.
Di suatu pagi, Okasan dan Hanada-san meminta kami semua berkumpul. Disuruhnya kami masuk ke dalam kamar yang sudah disulap menjadi bilik-bilik berukuran 2x3 meter. Sebelumnya kami diharuskan bersolek seindah mungkin. Yang selanjutnya terjadi adalah seorang demi seorang tentara masuk ke dalam masing-masing bilik. Melepas baju mereka. Aku kaget bukan kepalang. Merasa ada sesuatu yang tidak beres segera aku lari berlindung di pojok bilik. Tanganku mengambil kursi berusaha melindungi diri. Namun, tangan-tangan Jepang sudah begitu mahir dalam latihan militer. Ketakberdayaan kami menjadi senjata bagi mereka. Dilucuti pula lah sembarang apa yang menempel pada tubuh kami.
Genap seminggu, pagi itu aku harus segera membasuh badanku dari kepenatan yang berlebih. Membuang sisa-sisa bau prajurit Jepang yang menempel di tubuhku. Aku tak ingin keluar dari kamar mandi ini. Ingin rasanya berlindung seharian tanpa harus berdiam di bilik yang sudah disediakan oleh Okasan dan Hanada-san. Menunggu tentara-tentara Jepang yang menukarkan sen-sen mereka untuk masuk dalam bilikku.
Aku benci tiap kali pagi datang. Karena tiap pagi aku akan berhadapan dengan serdadu-seradadu bermata sipit berkulit putih. Aku benci tiap kali pagi datang, karena ternyata aku masih mampu bangun dan merasakan rahimku kesakitan. Aku benci tiap kali pagi datang, karena segala impian menjadi sekadar impian. Tidak pernah terlaksana.  Memudar.

Aku tak pernah lagi suka pagi. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar