Rabu, 20 Mei 2015

Perihal Si Tengah dan Bungsu



# Katarsis 

Sedang rindu sama si bungsu. Bukan, bukan bungsu milik saya. (Jangan khawatir para pengagum rahasia, saya belum menikah. Hahaha.) Ini bungsu milik Mama dan Bapak saya. Alias adik saya yang paling bontot dan cuma satu-satunya itu. Sebut saja Mawar, eh Haris. Iya, dia laki-laki. Dan kita punya selisih usia 5 tahun 1 bulan.
Selisih yang cuma setengah lusin itu membuat kita selalu bertengkar. Beneran, selalu! Mau kondisi perang atau gencatan senjata, ada saja pertengkarang, ada saja pertumpahan darah. Ya minimal, sentak-sentakan. Kita jarang sekali akur. Entah kenapa, mungkin jarak usia yang tidak seberapa, mungkin karena kita salah cara berkomunikasi, atau memang karena saya yang tidak bisa menempatkan diri sebagai kakak yang baik seperti kakak sulung kita, Mbak Ita.
Si Haris bisa dengan fasih sekali memanggil saya “Dian”. Tanpa embel-embel kakak atau mbakyu. Mungkin seperti tradisi di keluarga besar kami, anak perempuan kedua akan dipanggil nama saja oleh bungsu. Kebetulan dua budhe dan ibu saya punya urutan anak yang sama: perempuan, perempuan, dan laki-laki. Dan setiap anak laki-laki sekaligus bungsu ini akan memanggil anak kedua hanya dengan sebutan nama semata.
Atau bisa jadi karena Mama, Bapak, dan Mbak Ita tidak memanggil saya dengan tambahan Mbak. Mereka panggil nama, jadilah, si bungsu ikut memanggil nama saja. Tapi tak apa. Saya sih tak pernah masalah dengan panggilan nama saja. Dengan cara panggilan seperti itu, kadang saya merasa dekat dengan si Mawar, eh Haris.
Ramadhan tahun ini, Haris (Insya Allah) akan melepaskan diri dari Pondok Gontor secara baik-baik. Sudah dua bulanan dia rutin menelepon Mama, minta doa supaya ujian Pondok dan Pelajaran Umumnya berjalan lancar. Tak lupa, mama mengirim pesan berantai ke seluruh nomor keluarga. Sama-sama meminta doa. Kalau tak ada halangan, Haris akan “wis sudah” SMA bulan ini.
Wah cepat sekali ya melihat si bungsu ini besar. Padahal masih ingat betul saat dia menonjok wajah saya yang kelewat iseng, saat saya berpura-pura jadi hantu demi melihat dia nangis, saat dia kabur dari rumah karena permintaan membeli pakaian lebaran (lagi) ditolak oleh mama,  saat dia membalikkan semangkuk mie ayam yang sudah beku di atas saya yang baru saja bangun tidur, saat setiap Maghrib menjemputnya dari persewaan PS, saat memarahinya karena tak paham-paham matematika, saat dia lulus TPA di kelas 1 SMP, saat dia curhat tentang perpisahan dengan pacarnya (yang diaku pacar), saat dia diterima di SMA N 1 Slawi, saat dia lebih memilih dan juga terpaksa masuk Gontor.
Kini sudah tujuh tahun lebih kita tidak pernah dalam satu rumah yang sama lebih dari satu bulan. Tujuh lalu saya kuliah. Tiga tahun setelahnya, si Bungsu juga pergi sekolah di Jawa Timur sana. Sedangkan si sulung sudah lamaaaa sekali tak bermukim lama di rumah. Nah, Bapak sendiri bekerja di Bandung. Jadilah, kami semua meninggalkan Mama di rumah. Seorang diri. “Tak apa Ma. Bulan depan kita ramai-ramai lihat si Bungsu lulus dari Gontor!”


Tidak ada komentar:

Posting Komentar