Minggu, 18 Oktober 2015

Karena Menonton Konser Adalah Ibadah

#Hari Keempat Belas Bulan Blogging KBM UGM

Suatu ketika, pada suatu saat yang entah, Pakdhe saya yang haji dan konservatif serta NU tulen itu bilang, “Ngapain nonton konser. Mending di rumah. Ngaji.” Barangkali Pakdhe saya ini belum pernah sama sekali nonton konser. Tapi kok ya blio lebih suka menari jipinan yang diiringi lagu khas timur tengah sana. 

“Omaygot. Omaygot. Omaygot,” desis saya waktu itu, tak berani melabrak langsung pemikiran sejenis itu. Bagi saya, konser justru semacam ibadah yang harus ditunaikan. Bila ibadah Pakdhe saya salah satunya adalah berhaji, maka saya belum mampu mengikutinya. Secara psikologis dan dana, saya belum bisa ke Mekah sana dan menciumi Kabah serta Hajar Aswad.

Saya bilang menonton konser adalah ibadah. Jika ibadah dimaksudkan untuk katarsis, semacam penyucian diri yang membawa perubahan rohani dan pelepasan dari ketegangan. Maka, menonton konser menjadi semacam katarsis yang membuat diri ini melayang-layang menuju tahap trance. Ibadah konser menjadi suatu aktivitas orgasme menikmati musik secara massal. 


Menonton konser saya daulat menjadi ritus ibadah kala saya melakukan perjalanan rohani ke Jakarta: menuju NAIF. Satu band yang saya puja-puja dari zaman SD. Ketika video klip Posesif begitu sering muncul di layar kaca. Zaman SMA, kegilaan saya pada NAIF makin menjadi. Apa daya, saya tak bebas menonton konser. Apalah artinya saya yang tinggal di sebuah kabupaten kecil dan konser malah sering digelar di kota-kota besar.

Impian saya menonton NAIF akhirnya terwujud waktu kuliah semester awal. Saya bersama Prima, seorang kawan baik, berangkat ke Jakarta menonton NAIF yang akan merayakan ulang tahun ke-18. Berangkat dengan bekal uang seadanya, menumpang kamar kost seorang senior, bahkan harus tidur siang di Masjid Istiqlal. Menonton NAIF di Hard Rock Cafe saat itu adalah salah satu momentum paling membahagiakan dalam hidup saya yang biasanya datar-datar saja. 

(omaygot omaygot omaygot 1)


Setidaknya empat ibadah konser yang begitu berkesan buat saya: pertama ya NAIF di Jakarta itu tadi. Lantas, orgasme dalam menikmati musik saya rasai lagi ketika salah satu produsen rokok menyelenggarakan Soundrenaline di Stadion Maguwoharjo. Dari siang sampai tengah malam, saya yang datang bersama mas pacar saat itu, bahagia bukan kepalang. Gila! Band-band Indonesia yang saya gilai main dalam satu kesempatan. Mulai The SIGIT, NAIF (lagi), Slank reuni, sampai DEWA reuni! Omaygot, omaygot, omaygot!

Bertemu muka dengan personelnya merupakan suatu anugerah tersendiri. Apa mau dibilang? Walaupun kerap mendengar mereka di winamp, tapi bernyanyi bersama mereka adalah WOW! Apalagi ketika harus jentrak-jentrik alias lompat-lompat bersama ratusan –mungkin ribuan— penonton lain. Luapan adrenaline menguap bersama sorotan lampu warna-warni. Terlebih saat David, Ari Lasso, Kaka, Once beraksi di atas panggung. 

(omaygot omaygot omaygot 2)


Tapi, perkara konser bukan melulu perkara loncat-loncat. Nah, inilah pengalaman berkesan nonton konser yang ketiga. Adalah ketika saya dan tiga orang kawan, segera menyambangi Candi Borobudur sekitar medio tahun 2012. Kami jauh-jauh dari Jogja, cuma punya satu niat: menonton Payung Teduh! Kala itu, Payung Teduh diundang oleh Greenpeace. Ketika Is mulai berdendang, maka semua penonton yang awalnya bosan mendengarkan petinggi Greenpeace langsung berlari ke depan panggung. Kami semua duduk berjamaah dan khusyuk mendengar lagu-lagu Payung Teduh yang meneduhkan. Rasanya? Amboi lah! 

(omaygot omaygot omaygot 3)

Barusan malam, saya kembali bahagia setelah menjalani laku ibadah konser. Kali ini, giliran Sheila on 7. Bersama Janti, junior yang tiketnya saya bayari, kami berangkat berdua menuju UIN Sunan Kalijaga. Sempat bete karena lagu pertama yang saya lupa judulnya dan tidak hafal liriknya. Tapi semua itu terobati. Mas Duta yang manisnya Jawa sekali itu, dengan apik menyanyi dan beraksi dengan gimik yang menggemaskan. 

Deretan lagu yang mereka mainkan antara lain: Yang Terlewatkan| Pemuja Rahasia| Mudah Saja| Anugerah Terindah Yang Kumiliki| Sephia| Melompat Lebih Tinggi| Seberapat Pantas| Saat Aku Lanjut Usia| Pria Kesepian| 

Konser malam itu dipungkasi dengan lagu Lapang Dada. Iya, lagu yang menohok sekali. Walaupun lagunya bernada gembira, saya diingatkan bahwa saya perlu lapang dada. 

“Kau harus bisa bisa berlapang dada. Kau harus bisa bisa ambil hikmahnya. Karena semua semua tak lagi sama. Walau kau tahu dia pun merasakannya.”

Mari bergoyang! Sembari menangis. 

3 komentar:

  1. konser dangdut sm konser krisdayanti blm tu mbk di

    BalasHapus
  2. Khusus dangdut koplo, sholawat koplo, campusari koplo, rock duth, reggae dut, lihat di blog.ku To..haha

    BalasHapus
  3. waaaaa aku udah komen sebelumnyaaa

    BalasHapus